
Jakarta, 8 Juli 2026 – Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian terus perkuat tata kelola organisasi melalui pelantikan Pejabat Pengawas serta pengukuhan Ketua Kelompok Substansi (Kapoksi) dan Ketua Tim Kerja (Katimker) di lingkungan Direktorat Jenderal Hortikultura, Selasa (8/7).
Prosesi pelantikan berlangsung khidmat diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan Surat Keputusan Menteri Pertanian, pembacaan naskah pelantikan, pengambilan sumpah jabatan yang dipimpin langsung oleh Direktur Jenderal Hortikultura Muhammad Taufiq Ratule, serta pembacaan Pakta Integritas oleh para pejabat yang dilantik.
Dalam arahannya, Taufiq mengatakan bahwa penataan organisasi merupakan hasil evaluasi menyeluruh yang dilakukan secara bottom-up berdasarkan usulan para direktur untuk menjawab kebutuhan organisasi serta mengisi sejumlah posisi strategis.
“Kecepatan tanpa akuntabilitas adalah kecerobohan yang membawa masalah, sedangkan akuntabilitas tanpa kecepatan adalah kelambatan yang melumpuhkan organisasi. Kita wajib menguasai keduanya,” tegas Taufiq.
Dirinya menekankan pentingnya membangun budaya kerja yang cepat, tepat, dan tetap berlandaskan tata kelola pemerintahan yang baik. Seluruh jajaran diminta mematuhi ketentuan kepegawaian, menjaga integritas, serta mengelola anggaran secara profesional, terutama pada program-program strategis yang memiliki risiko tinggi, seperti pengadaan benih.
Menurutnya, setiap rupiah anggaran harus dipertanggungjawabkan secara transparan sehingga mampu memberikan manfaat nyata bagi pembangunan hortikultura sekaligus menghindari potensi kerugian negara.
Lebih lanjut, Taufiq menegaskan bahwa salah satu prioritas utama Direktorat Jenderal Hortikultura saat ini adalah menyukseskan program swasembada bawang putih nasional sebagaimana arahan Presiden Republik Indonesia dan Menteri Pertanian. Pemerintah telah mengalokasikan anggaran hampir Rp400 miliar untuk mendukung target penanaman bawang putih seluas 25.000 hektare pada tahun 2026.
Untuk mencapai target tersebut, Ditjen Hortikultura akan mempercepat penyesuaian regulasi, memperkuat penyediaan benih lokal melalui skema standing crop, serta meningkatkan pengawasan terhadap rantai pasok dan tata kelola impor agar berjalan efektif dan akuntabel.
“Skala pengadaan ini sangat masif karena melibatkan integrasi komoditas domestik dan internasional. Oleh sebab itu, setiap simpul rantai pasok harus dipetakan dan dikendalikan secara ketat agar target yang telah ditetapkan dapat tercapai,” ujar Taufiq.
Rangkaian acara ditutup dengan penandatanganan berita acara sumpah jabatan, pembacaan Surat Keputusan Direktur Jenderal Hortikultura beserta lampirannya, menyanyikan lagu Bagimu Negeri, pembacaan doa, serta pemberian ucapan selamat kepada seluruh pejabat yang baru dilantik dan dikukuhkan.
Pada kesempatan tersebut, Taufiq juga menyampaikan apresiasi kepada para pejabat sebelumnya atas dedikasi dan pengabdian yang telah diberikan dalam mendukung pembangunan hortikultura Indonesia.
“Jadikan jabatan ini sebagai amanah, jangan ada yang main-main, jangan ada yang melanggar hukum, semua harus sesuai aturan, dan berikan kinerja terbaik, jaga integritas, serta hadirkan inovasi dan pelayanan publik yang terbai,” tegasnya.
