
Jakarta (28/04) – Pemerintah melalui Kementerian Pertanian memastikan ketersediaan dan stabilitas harga bawang merah nasional tetap terjaga seiring panen di berbagai sentra produksi, salah satuny di Provinsi Jawa Timur.
Fluktuasi harga bawang merah dalam beberapa waktu terakhir disinyalir dominan akibat cuaca ekstrem. Hujan ekstrim yang disusul panas terik memicu merebaknya hama dan penyakit bawang merah sehingga berdampak pada penurunan produktivitas. Menyikapi fenomena tersebut, pemerintah melalui Kementerian Pertanian bergerak cepat dengan memperkuat koordinas antar-daerah untuk mengkonsolidasikan pasokan.
Sejumlah daerah sentra di Jawa Timur seperti Probolinggo, Nganjuk, Sampang, dan Sumenep saat ini terpantau mulai memasuki masa panen dan akan terus berlanjut dalam beberapa bulan ke depan. Hal ini menjadi sinyal kuat bahwa pasokan bawang merah akan semakin meningkat.
Fungsional Pengawas Benih Tanaman Dinas Pertanian Probolinggo, Ina Rany, menegaskan bahwa pertanaman bawang merah di wilayahnya berlangsung sepanjang tahun. “Pada April ini luas panen mencapai sekitar 600 ha dan meningkat menjadi 643 ha pada Mei. Luasan ini akan terus bertambah dengan puncak panen raya diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan Dina, Petugas Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Sumenep. “Pada April, luas panen bawang merah di Kabupaten Sumenep mencapai 422 ha, dan pada Mei sekitar 182 ha,” ungkap Dina.
Akat, Champion bawang merah Kabupaten Nganjuk saat dikonfirmasi menjelaskan bahwa harga mqasih terjaga dan pasokan akan aman hingga Idul Adha mendatang. “Di Nganjuk mulai panen bulan April dan jumlah panenan akan terus bertambah hingga Juni mendatang. Dalam waktu dekat akan ada panenan seluas 200 ha di wilayah Nganjuk Timur dan hingga Juni diperkirakan panen lebih dari 1.000 ha,” jelas Akat.
Salah satu sentra yang saat ini berkontribusi signifikan adalah Kabupaten Sampang, khususnya di Kecamatan Sokobanah. Dinas Pertanian setempat melaporkan bahwa luas panen bawang merah pada April-Mei 2026 mencapai 2.680 ha. “Hasil panen bawang merah dari wilayah Sokobanah, didistribusikan ke sejumlah pasar utama, seperti Pasar Induk Surabaya, Pasar Pabean, dan Pasar Keputran, sehingga memperkuat pasokan di tingkat konsumen,” ungkap Umul.
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Muhammad Agung Sunusi menuturkan kondisi pasokan bawang merah nasional masih terkendali termasuk Jawa Timur. Sebagai salah satu sentra utama nasional, Jawa Timur disebut menunjukkan kinerja produksi yang cukup solid. Perkiraan potensi luas panen bawang merah wilayah Jawa Timur pada April-Mei 2026 mencapai 9.440 ha. “Panen di Nganjuk Raya saat ini sudah mulai berlangsung dan akan berlanjut secara berkesinambungan di wilayah lainnya. Dengan kondisi ini, kami optimis pasokan akan meningkat dan harga bawang merah segera kembali stabil,” tandas Agung.
Dihubungi terpisah, Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, M Taufik Ratule menegaskan bahwa pemerintah terus melakukan pemantauan intensif terhadap perkembangan panen di seluruh sentra produksi. Berdasarkan Early Warning System Bawang Merah Nasional perkiraan panen bulan April – Mei 2026 diperkirakan mencapai 32 ribu hektar, atau setara produksi rogol konsumsi 227 ribu ton. “Jika kebutuhan nasional 2 bulan sebanyak 215 ribu ton, maka produksi kita masih mencukupi,” ujar Taufik.
Sebagai langkah konkret, Kementerian Pertanian terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, pelaku usaha, serta champion bawang merah dalam menjaga kelancaran distribusi dan stabilisasi harga di tingkat konsumen. Pemerintah juga memastikan berbagai upaya pengamanan produksi, mulai dari pengawalan musim tanam, pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT), hingga fasilitasi distribusi antarwilayah. “Tahun ini kita dorong ada fasilitasi APBN untuk menstimulan daerah defisit dan wilayah penyangga yang dikelola bersama Champion Bawang Merah,” terang Taufik.
