
Gorontalo – Berawal dari keinginan untuk mandiri setelah berhenti bekerja sebagai karyawan, Vivi Suaib berhasil mengembangkan usaha olahan pisang melalui Industri Kecil Menengah (IKM) Putri di Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo. Produk unggulannya, Pisang Susu Keju atau Pisuke, kini telah menjangkau pasar di berbagai daerah di Indonesia.
Usaha yang dirintis pada 2015 ini awalnya memproduksi beragam makanan ringan, mulai dari stik jagung hingga kue-kue. Melihat peluang pasar dan ketersediaan pisang yang melimpah di Gorontalo, Vivi Suaib kemudian berinovasi mengolah pisang menjadi keripik dengan tambahan topping susu dan keju.
“Awalnya, saya mengolah berbagai produk pangan, seperti stik jagung dan kue-kue. Seiring waktu, saya melihat peluang pasar dan bahan baku pisang yang melimpah. Dari situ, saya mencoba membuat keripik pisang dengan topping susu dan keju,” ujar Vivi Suaib, Ketua Kelompok IKM Putri.
Sejak 2017, IKM Putri berfokus memproduksi keripik pisang Pisuke. Produk ini tersedia dalam kemasan 100 gram, 300 gram, dan 500 gram. Pemasarannya telah menjangkau Makassar, Manado, Jakarta, Kendari, Semarang, dan Palu, serta didukung kerja sama dengan sejumlah jaringan ritel dan toko, antara lain Alfamidi, Indogrosir, Saronde, Karsa Utama, Jajan, dan Olivia. Pisuke juga telah memiliki sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Keberhasilan IKM Putri tidak terlepas dari potensi pisang di Provinsi Gorontalo. Berdasarkan data Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo, total produksi pisang selama 2020–2024 mencapai 25.101 ton dengan luas panen 776 hektare.
Harmolan Talani, Pejabat Fungsional Pengawas Mutu Hasil Pertanian sekaligus Ketua Tim Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo, menjelaskan bahwa sentra penanaman pisang antara lain berada di Desa Dulamayo Selatan, Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo, seluas 30 hektare, serta Desa Toyidito, Kecamatan Pulubala, seluas 20 hektare.
Pada 2025, penanaman pisang direncanakan seluas 20 hektare di Desa Puncak, Kecamatan Dulamayo Selatan, dan 30 hektare di Desa Toyidito, Kecamatan Pulubala. Potensi produksi tersebut diharapkan dapat mendukung ketersediaan bahan baku bagi pelaku usaha olahan pisang.
Pisang merupakan komoditas hortikultura yang mudah rusak setelah panen. Karena itu, penanganan pascapanen yang baik atau Good Handling Practices (GHP) serta pengolahan menjadi produk bernilai tambah penting dilakukan untuk menjaga mutu, mengurangi kehilangan hasil, dan meningkatkan pendapatan petani.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan usaha, Direktorat Jenderal Hortikultura memfasilitasi IKM Putri dengan bantuan sarana dan prasarana pascapanen serta pengolahan pada 2023. Suaib menyampaikan bahwa bantuan tersebut sangat bermanfaat bagi perkembangan usahanya dan masyarakat di sekitar tempat usahanya.
Hingga 2024, sebanyak 862 UMKM hortikultura telah ditumbuhkan. Pengembangan UMKM tersebut diharapkan mampu memperluas peluang usaha, meningkatkan pendapatan, serta mendorong kesejahteraan petani dan kelompok tani.
Sejalan dengan upaya tersebut, Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura, Freddy Lumban Gaol menyampaikan bahwa dukungan sarana dan prasarana pascapanen serta pengolahan diberikan kepada pelaku usaha yang memenuhi kriteria. Fasilitasi ini diharapkan mendorong diversifikasi produk, meningkatkan daya saing, dan memperkuat nilai ekonomi komoditas hortikultura.
Kisah IKM Putri menunjukkan bahwa pisang tidak hanya memiliki nilai sebagai buah segar, tetapi juga dapat diolah menjadi produk dengan peluang pasar yang lebih luas. Melalui inovasi, dukungan pemerintah, dan pemasaran yang terus berkembang, Pisuke menjadi salah satu contoh upaya hilirisasi hortikultura yang memberikan nilai tambah bagi komoditas lokal dan membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat.
