
Yogyakarta, 12 September 2026 || — Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat kolaborasi bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (FTP UGM), dan pelaku usaha untuk meningkatkan daya saing serta kinerja ekspor komoditas hortikultura nasional melalui penguatan rantai pasok, penerapan teknologi pascapanen, perlakuan fitosanitari, dan riset produk berbasis standar pasar global. Kolaborasi tersebut dibahas dalam Pertemuan Kolaborasi Penguatan Ekspor dan Hilirisasi Komoditas Hortikultura di Ruang Rapat FTP UGM, Yogyakarta, Kamis (10/9/2026), sebagai upaya mempercepat integrasi sektor hulu hingga hilir.
Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura Kementan Freddy Lumban Gaol mengatakan peningkatan ekspor hortikultura membutuhkan kerja bersama lintas lembaga dan pelaku usaha. Menurutnya, penguatan hilirisasi tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi, tetapi juga harus memastikan mutu, kontinuitas pasokan, teknologi pascapanen, hingga pemenuhan persyaratan negara tujuan ekspor.
“Hilirisasi hortikultura tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Kita harus mengintegrasikan rantai pasok dari hulu ke hilir, mulai dari penyediaan bahan baku yang memenuhi standar, penerapan teknologi pascapanen, perlakuan karantina, hingga penetrasi pasar ekspor,” ujar Freddy.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk menjawab sejumlah tantangan komoditas hortikultura segar Indonesia, terutama terkait masa simpan, konsistensi mutu bahan baku, keamanan produk, serta pemenuhan regulasi fitosanitari di negara tujuan.
Dalam pertemuan tersebut, BRIN memaparkan perkembangan penerapan teknologi iradiasi fitosanitari menggunakan electron beam di Cikarang. Teknologi ini diarahkan untuk mendukung penanganan komoditas unggulan seperti mangga, salak, dan buah naga agar dapat memenuhi persyaratan bebas organisme pengganggu tumbuhan yang ditetapkan negara tujuan.
Penerapan teknologi tersebut juga didukung penyusunan pedoman nasional serta peningkatan kapasitas inspektur. Langkah ini penting untuk memperkuat sistem jaminan mutu dan memastikan produk hortikultura Indonesia memenuhi persyaratan teknis serta standar karantina internasional.
Selain teknologi penanganan produk segar, pengembangan hilirisasi juga dilakukan melalui teknologi pengolahan. Pemanfaatan teknologi freeze drying dinilai mampu meningkatkan nilai tambah sekaligus memperpanjang umur simpan produk hortikultura dengan tetap mempertahankan karakteristik dan kualitas produk.
Sejumlah produk olahan berbahan baku nangka, durian, salak, nanas, dan pisang bahkan telah memasuki pasar ekspor, antara lain Malaysia, Singapura, Uni Emirat Arab, Inggris, dan Arab Saudi. Capaian tersebut menunjukkan bahwa pengembangan produk hortikultura bernilai tambah memiliki peluang besar untuk memperluas pasar internasional.
FTP UGM turut berperan dalam mendukung penguatan daya saing produk melalui riset analisis kandungan nutrisi dan senyawa fungsional. Riset tersebut diarahkan untuk menghasilkan karakterisasi produk yang dapat memperkuat klaim, nilai jual, dan posisi tawar komoditas hortikultura Indonesia di pasar global.
Kementan bersama para mitra selanjutnya menyepakati sejumlah langkah tindak lanjut untuk mempercepat implementasi hasil pertemuan.
Pertama, dilakukan kunjungan lapangan ke fasilitas penanganan pascapanen komoditas segar berbasis teknologi iradiasi di PT Oneject Indonesia, Cikarang, bersama BRIN. Kegiatan tersebut ditujukan untuk melihat secara langsung kesiapan teknologi dan penerapannya dalam mendukung ekspor hortikultura.
Kedua, dilakukan integrasi rantai pasok melalui identifikasi komoditas prioritas dan kelompok tani potensial yang dapat masuk ke dalam rantai pasok ekspor. Integrasi ini diharapkan mampu memberikan kepastian mutu, kontinuitas pasokan, dan keterlacakan produk dari tingkat produksi hingga pasar tujuan.
Ketiga, Kementan mendorong pengembangan riset aksi bersama FTP UGM, khususnya dalam penguatan karakterisasi nutrisi, senyawa fungsional, dan standar mutu produk hortikultura untuk kebutuhan pasar ekspor.
Pertemuan tersebut menegaskan pentingnya percepatan tindak lanjut dan pembagian peran yang jelas antarpihak. Sinergi antara pemerintah, lembaga riset, perguruan tinggi, dan dunia usaha diharapkan mampu membangun ekosistem hilirisasi hortikultura yang lebih kuat, inovatif, dan berorientasi ekspor.
Melalui kolaborasi tersebut, Kementan menargetkan produk hortikultura Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik, tetapi juga semakin kompetitif di pasar global dengan dukungan teknologi, standar mutu, dan rantai pasok yang berkelanjutan. (Humas-Horti)
