
SUMEDANG, 03/06/26 – Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian melalui Program Horticulture Development in Dryland Areas Project (HDDAP) menggelar Training of Trainers (ToT) Penerapan Good Agricultural Practices (GAP) dan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) bagi pemandu lapang di Kabupaten Sumedang. Kegiatan yang dilaksanakan selama 13 hari kerja pada 2–5 Juni, 8–12 Juni, dan 17–20 Juni 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya penguatan kapasitas sumber daya manusia dalam mendukung pengembangan hortikultura lahan kering yang produktif, berkelanjutan, dan adaptif terhadap perubahan iklim.
ToT ini menjadi tahapan penting dalam implementasi Program HDDAP yang berfokus pada pengembangan klaster hortikultura melalui penerapan praktik budidaya yang baik, ramah lingkungan, dan berdaya saing. Para pemandu lapang dipersiapkan sebagai trainer utama yang nantinya akan mendampingi petani melalui kegiatan Sekolah Lapang (SL), sehingga inovasi teknologi, prinsip GAP, dan penerapan PHT dapat diadopsi secara efektif di tingkat petani.
Kabupaten Sumedang memiliki potensi besar dalam pengembangan komoditas hortikultura, khususnya mangga dan cabai. Pada pelaksanaan ToT kali ini, dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan yang terlibat dalam pelaksanaan program, sedangkan pada sisi pembelajaran fokus diarahkan pada peningkatan kapasitas budidaya mangga sebagai salah satu komoditas unggulan yang memiliki prospek pasar luas dan menjadi komoditas prioritas dalam pengembangan klaster hortikultura HDDAP di wilayah tersebut.
Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura sekaligus Project Director HDDAP, Freddy Lumban Gaol, menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh bantuan yang diberikan, tetapi juga oleh penguatan kelembagaan petani sebagai fondasi pengembangan agribisnis hortikultura yang berkelanjutan.
“Penguatan Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP) harus segera didorong agar petani memiliki posisi yang lebih kuat dalam mengembangkan usaha taninya. Pada dasarnya petani memiliki pengetahuan dan pengalaman yang sangat baik di lapangan, bahkan sering kali lebih memahami kondisi usahatani mereka. Tugas kita adalah menjembatani pengetahuan tersebut dengan teknologi, inovasi, dan akses informasi yang terus berkembang. Karena itu, pendekatan yang baik kepada petani menjadi kunci agar setiap inovasi yang diperkenalkan dapat diterima dan diterapkan secara optimal,” ujar Freddy.
Dukungan terhadap pelaksanaan Program HDDAP juga disampaikan oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sumedang, Dr. Tono Suhartono, SP., MM. Menurutnya, sinergi, keterbukaan, dan komitmen seluruh pihak menjadi faktor penting dalam memastikan program berjalan efektif dan memberikan manfaat nyata bagi petani.
“Pemerintah Kabupaten Sumedang mengusung semangat Membumi, sehingga setiap kegiatan pembangunan harus dapat dilihat manfaatnya, dilaksanakan secara transparan, terbuka, dan saling menjaga kepercayaan antar seluruh pihak yang terlibat. Dengan semangat tersebut, kami berharap seluruh pemangku kepentingan dapat bersinergi dan berkomitmen menyukseskan Program HDDAP demi kemajuan petani dan pengembangan hortikultura di Kabupaten Sumedang,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur Buah dan Florikultura, Fauziah T. Ladja, menjelaskan bahwa pelaksanaan ToT merupakan bagian penting dalam menyiapkan pemandu lapang sebagai penggerak utama proses pembelajaran petani di lokasi program.
“Melalui Training of Trainers (ToT) ini, kami berharap para pemandu lapang dapat menguasai seluruh materi dan metode pendampingan secara menyeluruh, sehingga memahami dengan baik apa yang harus dilakukan di lapangan. Pemandu lapang nantinya diharapkan menjadi pemain utama sekaligus motor penggerak dalam proses pembelajaran petani melalui Sekolah Lapang, sehingga transfer teknologi dan inovasi budidaya dapat berjalan secara efektif,” ujar Fauziah.
Senada dengan hal tersebut, Penanggung Jawab Quality Assurance Program HDDAP, Dina Martha Susilawati, menekankan bahwa pemandu lapang memiliki peran strategis dalam memastikan berbagai inovasi dan teknologi yang diperkenalkan melalui program dapat diterapkan oleh petani.
“Pemandu lapang merupakan ujung tombak keberhasilan Program HDDAP. Setelah memperoleh pembekalan melalui ToT ini, mereka diharapkan mampu menjadi fasilitator yang andal, mengawal proses pembelajaran petani, serta memastikan seluruh materi dan praktik budidaya yang baik dapat diterapkan di lapangan. Ketika pemandu lapang mampu menjalankan perannya dengan optimal, maka dampak program akan semakin nyata dalam meningkatkan produktivitas, kualitas hasil, dan kesejahteraan petani,” jelas Dina.
Selama pelatihan, peserta akan mendapatkan pembekalan melalui delapan modul utama yang mencakup pengelolaan dan konservasi lahan, penanganan benih, penerapan budidaya sayuran dan tanaman obat, penerapan budidaya tanaman buah, penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, panen dan pascapanen, serta sistem manajemen budidaya. Materi tersebut didukung oleh Petunjuk Teknis Penerapan GAP, Buku Pegangan Pemandu Lapang Penerapan GAP, dan Buku Pedoman Pembelajaran Penerapan GAP yang menjadi acuan dalam pelaksanaan Sekolah Lapang.
Sebagai bentuk komitmen dalam mengikuti seluruh rangkaian pelatihan, para peserta menandatangani kontrak belajar yang mengatur keikutsertaan mereka selama 13 kali pertemuan. Komitmen tersebut diharapkan dapat memastikan proses pembelajaran berjalan optimal sehingga para pemandu lapang siap menjalankan perannya sebagai fasilitator dan pendamping petani secara berkelanjutan.
Selain menerima materi di dalam kelas, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai penerapan titik kendali Good Agricultural Practices sesuai Peraturan Menteri Pertanian Nomor 22 Tahun 2021. Pembelajaran diperkuat melalui praktik lapangan yang memungkinkan peserta memahami secara langsung penerapan teknologi dan standar budidaya yang direkomendasikan dalam pengembangan komoditas mangga.
Sebagai simbol komitmen terhadap keberlanjutan program dan pengembangan klaster hortikultura di Sumedang, kegiatan pembukaan turut diisi dengan penanaman bibit mangga secara simbolis yang dipimpin oleh jajaran Direktorat Jenderal Hortikultura, Dinas Pertanian Provinsi Jawa Barat, Dinas Pertanian Kabupaten Sumedang, serta perwakilan pemandu lapang. Penanaman tersebut mencerminkan harapan agar pengembangan komoditas mangga di Sumedang dapat tumbuh semakin kuat, adaptif terhadap tantangan perubahan iklim, serta memiliki daya saing tinggi di pasar domestik maupun ekspor.
Melalui kegiatan ToT HDDAP ini, Kementerian Pertanian berharap lahir pemandu lapang yang kompeten dan mampu menjadi agen perubahan dalam penerapan budidaya hortikultura yang baik dan berkelanjutan. Penguatan kapasitas tersebut diharapkan dapat mendorong peningkatan produktivitas, kualitas hasil, dan kesejahteraan petani, sekaligus memperkuat pengembangan klaster mangga sebagai salah satu komoditas unggulan Kabupaten Sumedang.
