
Tanggamus, Lampung – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Hortikultura melakukan pemantauan pertanaman cabai rawit di lahan seluas sekitar 2–3 hektare milik Kelompok Tani Bina Usaha, Desa Gisting Atas, Kecamatan Gisting, Kabupaten Tanggamus, Lampung. Kegiatan ini merupakan bagian dari langkah antisipatif pemerintah dalam menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas harga cabai menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Pemantauan dilakukan bersama penyuluh pertanian setempat guna memastikan kondisi pertanaman dalam keadaan optimal dan siap panen pada momentum meningkatnya kebutuhan masyarakat.
Penyuluh Pertanian Kecamatan Gisting, Eri, menyampaikan bahwa tanaman cabai rawit di lahan tersebut diperkirakan memasuki masa panen sekitar tiga minggu ke depan, bertepatan dengan pertengahan Ramadan hingga menjelang Idul Fitri.
“Kami saat ini berada di Kelompok Tani Bina Usaha, Desa Gisting Atas. Insyaallah cabai rawit di lahan ini akan dipanen sekitar tiga minggu lagi, atau menjelang Idul Fitri. Semoga panenan ini bisa mengantisipasi kenaikan harga di tingkat konsumen saat Lebaran,” ujar Eri.
Sementara itu, petani setempat, Marlan, menjelaskan bahwa varietas yang dibudidayakan adalah cabai rawit Abayomi, dengan harga jual di tingkat petani saat ini diperkirakan mencapai Rp60.000 per kilogram.
“Cabai yang ditanam varietas Abayomi. Harga sekarang diperkirakan sekitar Rp60 ribu per kilogram,” jelas Marlan.
Menurutnya, tingginya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir berpotensi menimbulkan risiko kehilangan produksi hingga 30 persen. Dalam kondisi tersebut, hasil panen biasanya dijual kepada pengepul untuk meminimalkan potensi kerugian.
“Kalau curah hujan tinggi, risiko kehilangan produksi bisa sampai 30 persen, sehingga hasil dijual ke pengepul. Namun saat cuaca baik, harga cabai bisa di kisaran Rp30 ribuan,” tambahnya.
Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura Kementerian Pertanian, Freddy Marbun, yang turut meninjau langsung lokasi pertanaman, menjelaskan bahwa harga Rp60.000 per kilogram lebih dipengaruhi oleh dinamika persaingan antarpengepul di lapangan.
“Harga Rp60 ribu per kilogram yang terjadi di tingkat petani saat ini lebih dipengaruhi oleh persaingan antarpengepul. Pemerintah terus memantau perkembangan ini agar harga tetap wajar, tidak memberatkan konsumen, namun tetap memberikan keuntungan yang layak bagi petani,” tegas Freddy.
Doktor Pertanian Lulusan Hokkaido University di Jepang itu menambahkan, jika saat ini Kementan berharap harga cabai di tingkat petani dapat bergerak selaras dengan Harga Acuan Pemerintah (HAP), sehingga keseimbangan antara produsen dan konsumen dapat terjaga.
“Kami memastikan produksi berjalan baik dan distribusi lancar. Dengan proyeksi panen menjelang Idul Fitri, kami optimistis pasokan cabai aman dan mampu meredam potensi lonjakan harga saat permintaan meningkat,” pungkasnya.
Melalui pemantauan intensif ini, Kementan menegaskan komitmennya dalam mengawal produksi dan distribusi komoditas hortikultura strategis guna menjaga stabilitas pasokan dan harga menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), sekaligus melindungi kepentingan petani dan masyarakat luas.
Freddy juga tak menampik jika saat ini Kementan akan mengawal penuh hilirisasi komoditas Hortikultura khususnya cabai dan bawang. “Sesuai Perintah Bapak Menteri dan arahan Bapak Dirjen Hortikultura, kami akan terus berada di lapangan membersamai petani, memantau dari panen hingga proses distribusi ke pasar. Kementan akan terus menjaga stabilitas harga komoditas hortikultura jelang romahdhan hingga lebaran”. Tutup Direktur HHH. (AL)
