
Jakarta — Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menggelar pertemuan strategis dalam rangka memperkuat sinergi nasional, khususnya dalam pengembangan database terintegrasi untuk mendukung kemandirian farmasi berbasis alam. Pertemuan ini berlangsung di Ruang Rapat Besar Direktorat Jenderal Hortikultura pada Selasa, 7 April 2025.
Dalam pertemuan tersebut, Kementerian Kesehatan menegaskan komitmennya untuk meningkatkan produksi dan penggunaan obat berbasis bahan alam sebagai alternatif dari obat kimia. Upaya ini tidak hanya bertujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam Indonesia, tetapi juga untuk menekan harga obat kimia melalui kehadiran kompetitor yang sepadan di pasar.
Kemenkes juga mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 75 desk kebutuhan obat bahan alam yang menjadi acuan dalam pengembangan sektor ini. Selain itu, Kemenkes telah mengembangkan sebuah database berbasis dashboard yang memuat informasi terkait pemanfaatan fitofarmaka sebagai bahan alami. Keberadaan sistem ini diharapkan dapat meningkatkan koordinasi antar pemangku kepentingan serta memastikan ketersediaan data yang lebih akurat, terintegrasi, dan mudah diakses.
Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian, Muhammad Agung Sunusi, menjelaskan bahwa Kementan melalui Direktorat Sayuran dan Tanaman Obat terus mendorong program pengembangan kawasan tanaman obat. Program ini difokuskan pada komoditas strategis seperti jahe, kunyit, dan kapulaga, dengan salah satu sasaran utama sebagai penyedia bahan baku industri farmasi berbasis alami sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat dukungan hulu terhadap kebutuhan bahan baku yang telah dipetakan oleh Kemenkes.
Lebih lanjut, Kementan juga telah mengembangkan aplikasi Sipedas, sebuah sistem berbasis web resmi dari Direktorat Jenderal Hortikultura yang digunakan untuk entri, pemantauan, dan monitoring data statistik komoditas hortikultura secara real-time, termasuk tanaman obat. Ke depan, sistem ini diharapkan dapat terintegrasi dan mendukung penguatan database nasional, sehingga mampu menjawab kebutuhan data lintas sektor.
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat menegaskan pentingnya kolaborasi berkelanjutan antar kementerian. “Kita akan terus berkelanjutan membangun sinergi,” ujarnya. Ia juga menambahkan, “Selama ini kami menfasilitasi pestisida nabati untuk gerakan pengendalian pada kawasan tanaman obat sebagai upaya mengedepankan penggunaan bahan alami,” sebagai bagian dari upaya mendorong pertanian yang ramah lingkungan dan mendukung ekosistem farmasi berbasis alam.
Sementara itu, Kemenko PMK menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pihak dalam mendukung penguatan sistem data nasional. Kemenko PMK berharap tantangan dalam pengelolaan dan integrasi database dapat segera diatasi melalui kerja sama lintas sektor, sehingga mampu mempercepat pengembangan farmasi berbasis alam, meningkatkan efisiensi kebijakan, serta memperkuat kemandirian nasional di bidang kesehatan.
Ke depan, sinergi antara Kementan, Kemenkes, dan Kemenko PMK akan terus diperkuat, khususnya dalam pembangunan dan integrasi data, sebagai fondasi utama dalam mewujudkan ekosistem farmasi berbasis alam yang berkelanjutan di Indonesia.
