
Karo-Sumut/13/03/2026 – Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Hortikultura terus mempercepat finalisasi Horticulture Cluster Development Plan(HCDP) dan data Calon Petani Calon Lokasi (CPCL) sebagai bagian dari persiapan pelaksanaan program Horticulture Development in Dryland Areas Project (HDDAP) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
Upaya percepatan ini dilakukan untuk memastikan kesiapan pelaksanaan kegiatan di lapangan sekaligus memetakan potensi komoditas hortikultura di kawasan lahan kering. Melalui kegiatan ini, diharapkan diperoleh berbagai informasi penting seperti gambaran umum komoditas unggulan, pola tanam, progres penyusunan HCDP, kelengkapan data CPCL, serta berbagai permasalahan yang dihadapi di tingkat petani.
Sebagaimana diketahui, pengembangan hortikultura di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait produktivitas dan daya saing komoditas. Di sisi lain, Indonesia memiliki potensi lahan kering yang sangat luas, yakni sekitar 53 juta hektare, namun hingga kini belum dimanfaatkan secara optimal untuk pengembangan sektor hortikultura.
Program HDDAP hadir sebagai strategi pemerintah untuk mendorong peningkatan produktivitas dan produksi komoditas hortikultura di lahan kering. Program ini juga diarahkan pada optimalisasi pemanfaatan lahan kering, peningkatan nilai tambah produk hortikultura, serta pengembangan dan penguatan kelembagaan petani.
Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Hortikultura juga menargetkan pengembangan 10.000 hektare lahan Hortikultura sebagai upaya meningkatkan produktivitas komoditas hortikultura sekaligus memperkuat basis ekonomi petani di daerah.
Selain itu, proyek HDDAP dirancang sebagai investasi terpadu yang mencakup seluruh rantai usaha hortikultura, mulai dari pengolahan lahan, produksi, hingga akses pasar. Pendekatan ini bertujuan meningkatkan ketahanan iklim, keberlanjutan usaha tani, produktivitas, serta profitabilitas sektor hortikultura di kawasan lahan kering.

Program ini juga diharapkan dapat meningkatkan akses petani kecil terhadap input pertanian berkualitas, sistem produksi modern, serta praktik pascapanen yang lebih baik melalui pembangunan infrastruktur adaptif terhadap perubahan iklim, peningkatan kapasitas petani, dan penguatan rantai nilai hortikultura di lokasi-lokasi prioritas.
Dengan pendekatan tersebut, HDDAP diharapkan memberikan dampak nyata terhadap pengurangan kemiskinan di pedesaan dan peningkatan ketahanan pangan nasional, sekaligus meningkatkan keuntungan usaha tani dan ketahanan iklim pada sistem pertanian lahan kering.
Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura yang juga menjabat sebagai Project Director HDDAP, Freddi Lumban Gaol, menegaskan bahwa program ini akan dioptimalkan di berbagai daerah sasaran.
“Program Horticulture Development in Dryland Areas Sector Project (HDDAP) saat ini tersebar di 13 kabupaten pada 7 provinsi. Kami akan mengoptimalkan pelaksanaannya agar memberikan manfaat maksimal bagi petani, khususnya dalam meningkatkan produktivitas dan nilai tambah komoditas hortikultura di lahan kering,” ujar Freddy saat dihubungi melalui sambungan telepon.
Ia menambahkan, percepatan finalisasi HCDP dan data CPCL menjadi langkah penting untuk memastikan program berjalan tepat sasaran, efektif, dan mampu mendorong transformasi pengembangan hortikultura di wilayah-wilayah lahan kering di Indonesia.
Senada dengan Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian, Pj Pelaksana HDDAP Kabupaten Karo, Henni Kristina Tarigan, menyampaikan bahwa progres pelaksanaan program HDDAP di wilayah tersebut menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan.
“Sampai saat ini telah terbentuk Horticulture Cluster Development Plan (HCDP) untuk beberapa komoditas unggulan. Untuk komoditas jeruk telah terbentuk klaster di Desa Pola Tebu yang mencakup kegiatan intensifikasi dan ekstensifikasi jeruk pada enam kelompok tani, yaitu Poktan Rambah Galoh, Poktan Liang Melas, Poktan Rumah Kuta, Poktan Lau Gerogoh di Desa Pola Tebu serta Poktan Mutiara, dan Poktan Musyawarah di Desa Kuta Mbelin,” jelas Henni.
Selain itu, lanjutnya, terdapat 8 (delapan) cluster untuk HCDP komoditas kentang, yaitu Klaster Anugrah Sinabung, Maju Bersama, Mamre Mufakat, Ajibuhara Group, Tani Maju II, Juma Pardeleng, Juma Kubur dan Cluster Tani Maju 2.
“Untuk komoditas salak juga telah terbentuk satu klaster HCDP, yakni Klaster Jaya Lestari. Pembentukan klaster ini diharapkan dapat memperkuat pengembangan komoditas hortikultura berbasis kawasan sekaligus meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani di Kabupaten Karo,” tutupnya.
