
Pernyataan Fery Amsari yang menyebut swasembada pangan sebagai sesuatu yang “palsu” atau “kebohongan” mendapat tanggapan dari Ketua Bidang Pertanian dan Kelautan Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam, Romadhon. Ia menilai pernyataan tersebut tidak didasarkan pada basis data yang jelas dan cenderung bersifat opini.
Romadhon menegaskan bahwa kondisi di lapangan justru menunjukkan adanya upaya serius pemerintah dalam memperkuat kemandirian pangan nasional. Menurutnya, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, sektor pertanian menjadi prioritas melalui berbagai kebijakan strategis yang dijalankan oleh Kementerian Pertanian di bawah komando Andi Amran Sulaiman.
Sebagai rujukan berbasis data, Kabid Pertanian mengacu pada data resmi Badan Pusat Statistik. Pada tahun 2025, luas panen padi tercatat mencapai sekitar 11,32 juta hektare dengan total produksi sebesar 60,21 juta ton gabah kering giling (GKG). Menurutnya, capaian ini menunjukkan bahwa produksi nasional masih berada pada level yang kuat dalam menopang kebutuhan pangan dalam negeri.
Salah satu langkah yang dinilai progresif adalah pelibatan generasi muda dalam sektor pertanian melalui program Brigade Pangan. Program ini mendorong pemuda untuk terjun langsung ke dunia pertanian dengan pendekatan modern dan berbasis teknologi.
“Pemerintah berupaya mengubah citra pertanian dari sektor yang dianggap tradisional dan kurang menjanjikan menjadi sektor yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan masa depan cerah,” ujar Romadhon.
Ia juga menyoroti perbaikan tata kelola pupuk bersubsidi. Pemerintah disebut telah meningkatkan kuota pupuk bersubsidi secara signifikan, dari sekitar 4,7 juta ton menjadi 9,5 juta ton. Peningkatan ini kemudian diikuti dengan penyederhanaan alur distribusi melalui pemangkasan mata rantai, sehingga petani kini dapat lebih mudah mengakses dan memperoleh pupuk bersubsidi. Kebijakan ini dinilai mampu mendukung peningkatan produktivitas pertanian.
Di sisi lain, penyesuaian Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk gabah oleh Perum Bulog turut mendorong semangat petani untuk meningkatkan produksi. Romadhon menyebut bahwa kebijakan harga yang lebih kompetitif memberikan kepastian pasar dan meningkatkan pendapatan petani.
Pemerintah juga memperkuat dukungan melalui bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), yang berkontribusi pada peningkatan efisiensi dan stabilitas produksi padi. Tidak hanya itu, program intensifikasi dan ekstensifikasi seperti cetak sawah, optimalisasi lahan, rehabilitasi irigasi, serta penggunaan benih unggul terus digencarkan.
“Berbagai kebijakan ini bukan sekadar stimulus jangka pendek, tetapi merupakan bentuk komitmen nyata pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani,” kata Romadhon.
Ia menilai, pernyataan yang menyebut swasembada pangan sebagai kebohongan tidak hanya tidak berdasar, tetapi juga berpotensi mengabaikan kerja keras para pemangku kepentingan, khususnya petani yang menjadi garda terdepan dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
“Petani saat ini sedang berjibaku di lapangan. Upaya mereka perlu diapresiasi, bukan justru didelegitimasi dengan opini yang tidak berbasis data,” pungkasnya.
