
Wonosobo – Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Hortikultura terus mempercepat implementasi Horticulture Development in Dryland Areas Sector Project (HDDAP) di berbagai daerah, salah satunya di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Upaya ini dilakukan melalui penguatan komponen Quality Assurance (QA) dan pemasaran guna meningkatkan daya saing produk hortikultura, khususnya komoditas kentang dan salak.
Kegiatan yang berlangsung pada 14–16 April 2026 ini mencakup sosialisasi, konsolidasi, serta koordinasi lintas pemangku kepentingan. Turut hadir dalam kegiatan tersebut antara lain District Project Implementation Unit (DPIU) Wonosobo, penyuluh pertanian, petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), District Implementation Team (DIT), serta kelompok tani di wilayah setempat.
“Penguatan komponen Quality Assurance dan pemasaran dalam HDDAP merupakan langkah strategis untuk memastikan produk hortikultura tidak hanya meningkat dari sisi produksi, tetapi juga memiliki kualitas, daya saing, dan akses pasar yang lebih luas. Melalui sinergi lintas pemangku kepentingan, kami meyakini upaya ini memberikan nilai tambah berkelanjutan serta meningkatkan kesejahteraan petani di Kabupaten Wonosobo,” ujar Direktur Hilirisasi dan Hasil Hortikultura, Freddy saat dihubungi di lokasi berbeda.
Pada komponen QA, kegiatan dipimpin oleh Penanggung Jawab Komponen QA HDDAP, Dina Martha, dengan fokus pada percepatan penerapan Good Agricultural Practices (GAP) dan pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (PHT) melalui bimbingan teknis dan Sekolah Lapang. Tiga kelompok tani di Kecamatan Watumalang telah menyatakan kesiapan mengikuti kegiatan tersebut, yang akan dilaksanakan secara bertahap mulai pertengahan tahun 2026. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas, keamanan, serta konsistensi produksi hortikultura di tingkat petani.
“Penerapan GAP menjadi kunci utama dalam menghasilkan produk hortikultura yang aman, bermutu, dan berdaya saing. Standar mutu yang baik akan membuka peluang lebih besar bagi petani untuk menembus pasar modern maupun ekspor,” ujarnya di sela-sela acara.
Sementara itu, pada komponen pemasaran, kegiatan difasilitasi dengan Penanggung Jawab Komponen Pemasaran HDDAP, Destialisma, mendorong penguatan kapasitas petani melalui pelatihan pemasaran digital dan fasilitasi kemitraan dengan sektor swasta.
“Hasil identifikasi di Desa Jojogan menunjukkan bahwa komoditas kentang memiliki produktivitas yang cukup baik, dengan potensi pengembangan pasar yang masih terbuka luas, baik untuk pasar domestik maupun ekspor,” terangnya.
Destialisma menyampaikan bahwa strategi pemasaran ke depan akan difokuskan pada penguatan akses pasar, efisiensi rantai distribusi, serta pengembangan kemitraan usaha yang saling menguntungkan antara petani dan pelaku usaha. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan posisi tawar petani sekaligus menciptakan sistem pemasaran yang lebih adil dan berkelanjutan.
Direktorat Jenderal Hortikultura juga mencatat bahwa rantai pemasaran kentang di Wonosobo telah menjangkau berbagai wilayah, termasuk pasar induk di Jabodetabek dan Jawa Barat. Ke depan, penguatan kelembagaan petani serta efisiensi rantai pasok menjadi fokus utama untuk meningkatkan daya saing produk.
Selain itu, penyusunan Horticulture Cluster Development Plan (HCDP) untuk komoditas kentang di Desa Jojogan telah diajukan dan saat ini dalam proses review. Dokumen ini diharapkan menjadi model pengembangan klaster hortikultura yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Dalam mendukung keberhasilan program, aspek infrastruktur juga menjadi perhatian, termasuk rencana pemanfaatan sumber air dari Telaga Warna di Desa Jojogan. Kementerian Pertanian bersama para pemangku kepentingan terus melakukan koordinasi untuk memastikan pemanfaatan sumber daya air dapat berjalan optimal dengan tetap memperhatikan prinsip konservasi lingkungan.
Sebagai tindak lanjut, Kementerian Pertanian mendorong percepatan penyiapan sumber daya pendukung, termasuk mobilisasi fasilitator, penguatan koordinasi antar tim pelaksana, serta sinkronisasi program di tingkat pusat dan daerah. Dengan langkah tersebut, diharapkan seluruh rangkaian kegiatan HDDAP di Kabupaten Wonosobo dapat berjalan sesuai target dan memberikan dampak berkelanjutan bagi pengembangan hortikultura nasional, khususnya di kawasan lahan kering.
