
TANAH BUMBU, KALIMANTAN SELATAN, 24 Agustus 2026 — Kementerian Pertanian terus mendorong penguatan produksi, efisiensi budidaya, dan akses pasar komoditas hortikultura di Kabupaten Tanah Bumbu. Hal tersebut disampaikan Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura, Freddy, dalam rangkaian kunjungan kerja pada Sabtu (22/8) ke tiga kawasan sentra hortikultura, meliputi komoditas cabai, semangka, dan sayuran yang dikembangkan di kawasan pesisir.
Kunjungan pertama dilakukan ke P4S Sekar Rahayu Agro, Desa Manunggal, Kecamatan Karang Bintang, untuk melihat langsung pengembangan komoditas cabai varietas Tangguh di lahan seluas 30 hektare. Varietas tersebut dinilai memiliki daya tahan yang baik terhadap kondisi kemarau dengan produktivitas mencapai sekitar 3 kg per pohon.
Di tengah fluktuasi harga cabai di tingkat lokal yang berkisar antara Rp25.000 hingga Rp65.000 per kilogram, Freddy menekankan pentingnya penguatan kelembagaan petani sebagai bagian dari strategi hilirisasi dan peningkatan posisi tawar.
“Kelembagaan petani sangat vital untuk memperkuat posisi tawar, mempercepat alur informasi harga, dan membuka rantai distribusi yang lebih luas. Peningkatan produksi harus berjalan seiring dengan kepastian pasar,” tegas Freddy.
Kunjungan kedua dilanjutkan ke kawasan pengembangan semangka berbasis kemitraan bagi hasil di atas lahan seluas 6 hektare. Komoditas semangka tersebut mampu menghasilkan produktivitas hingga 35 ton per hektare dan telah dipasarkan antarpulau hingga Surabaya. Pemasaran dilakukan berdasarkan kualifikasi mutu, dengan harga Grade A Rp10.000/kg, Grade B Rp9.000/kg, dan Grade C Rp8.000/kg.
Pengembangan semangka tersebut menunjukkan bahwa penerapan kemitraan yang sehat, produktivitas yang baik, serta pengelolaan pemasaran berdasarkan standar mutu dapat membuka peluang pasar yang lebih luas bagi petani hortikultura daerah.

Selanjutnya, kunjungan ketiga dilakukan ke Desa Kampung Baru, Kecamatan Kusan Hilir, untuk meninjau pengembangan sayuran di kawasan pesisir seluas 1,5 hektare yang dikelola oleh sekitar 30 kepala keluarga. Pemanfaatan lahan pesisir tersebut menjadi salah satu potensi pengembangan hortikultura di wilayah suboptimal dengan penerapan teknologi budidaya yang adaptif dan efisiensi penggunaan air.
“Lahan pesisir memiliki potensi besar jika didukung teknologi yang tepat. Namun, pengembangan tidak boleh berhenti di tingkat produksi; kita harus memperkuat kelembagaan, menjaga kontinuitas pasokan, dan memastikan produk memiliki nilai tambah di pasar,” ujar Freddy.
Kementerian Pertanian optimistis potensi cabai, semangka, dan sayuran pesisir di Tanah Bumbu dapat terus dikembangkan melalui sinergi antara peningkatan produktivitas, teknologi budidaya, penguatan kelembagaan petani, kemitraan, serta perluasan akses pasar. Integrasi tersebut diharapkan mampu menjadikan Tanah Bumbu sebagai salah satu model pengembangan dan hilirisasi hortikultura di wilayah pesisir dan kawasan suboptimal.
